Kamis, 04 Agustus 2016

Ekspektasi vs Realita Dalam Membesarkan Anak


Saat belum ada Qya, saya punya beberapa rancangan dalam membesarkan anak. Harus ini harus itu, ga boleh gini ga boleh gitu. Ketika Qya lahir,byarrr semua bayangan. Ternyata  memang benar adanya bahwa  keadaan dilapangan tidak semudah teori di buku dan artikel parenting. 

Note :  daftar ini dibuat saat Qya berusia 8 bulan. Sepertinya akan bertambah panjang seiring bertambahnya usia Qya. lol

here we go



1. Ekspektasi : Asi eksklusif, ibu bekerja? Ada ASIP!
     Realita.      : Asi + sufor

     Sebelum masa cuti kerja habis, saya sudah menyiapkan berbagai peralatan tempur agar Qya bisa asip. Namun, stok asip engga banyak dan masih sangat awam dalam persoalan mengatur dan menghangatkan ASIP. Singkat cerita, Qya sudah diaplus minum sufor sejak bulan – bulan awal kehidupannya. 

2. Ekspektasi       : MPASI homemade 100%
    Realita              : MPASI bikinan sendiri & Bubur Bayi Instan

6 bulan berlalu rasanya sekejap saja, eh tiba – tiba sudah waktunya Qya diberi MPASI. Belum ada persiapan, belum sempat baca – baca resep mpasi sederhana (dibayangan saya mpasi usia 6 bulan sudah yang berat – berat seperti nasi tim), belum sempat buat tepung beras merah dll. Akhirnya Qya diperkenalkan dengan bubur bayi Instan. Saat 7 bulan sudah berani bereksperimen membuat MPASI namun saat bubu dan eyang tidak sempat membuat MPASI homemade, maka saya membuatkan nasi tim instan.

3. Ekspektasi : Steril semua barang – barang bayi
    Realita : sterilizer belum pernah digunakan semenjak pertama kali beli. Botol Asi cukup direbus beberapa menit. Alat makan dicuci dan disiram air panas

4. Ekspektasi : No Pospak, Pakai Clodi saja
    Realita        : Berburu Diapers diskon di setiap awal bulan
   
My Salute goes to para ibu yang bisa menerapkan pengguanaan Clodi atau popok kain. Karena saya hanya sanggup sekali – kali ( dan jarang banget) menggunakan clodi. Pada awal – awal bulan Qya lahir rasanya sudah tidak ada waktu (malas) harus cuci jemur clodi, apalagi saat usia 8 bulan qya sudah pup teratur setiap hari.

5. Ekspektasi : Makan di High Chair, ga pake acara gendong atau jalan – jalan
Realita : YANG INI SESUAI EKSPEKTASI!! yeaayyy...

Hehe, boleh dong sedikit pamer bahwa ada 1 hal yang sesuai ekspektasi . Jadi semenjak usia 7 bulan  hingga saat ini Qya Alhamdulillah bisa kooperatif banget dalam hal makan. Qya bisa anteng duduk di high chair dan makan lahap setiap menu yang disodorkan. Terutama ngemil biscuit dan buah. Entah ya beberapa bulan kedepan apakah masih anteng atau engga. Semoga saja high chair bisa terpakai sampai batas usia maksimal

6. Ekspektasi : Jauh - jauh dari  TV & Gadget
Realita : dikamar tidur ada TV, Laptop dan beberapa gadget milik saya dan suami

Huhuhu diantara 6 poin diatas ini nih yang paling bikin guilty namun susah dihilangkan. TV / gadget itu jadi alat wajib yang dilihat saat menyusui. Laptop juga menyala terus untuk ngurusin Olshop, kerjaan dan nulis – nulis seperti ini. Saya tahu sih radiasi dari alat elektronik bisa berbahaya bagi bayi. Well, kedepannya mudah2an bisa dikurangi, diganti saja dengan baca buku ya bubu.


Wah ternyata cukup banyak juga kenyataan yang tidak sesuai ekspektasi awal. Agak mellow sih sebenarnya, koq rasanya 'kurang usaha' dalam memberikan yang terbaik terutama dalam hal ASI dan MPASI. Apalagi kalau baca - baca pendapat yang amat sangat 'beragam' di forum ibuk ibuk. 

Untungnya saya engga mengalami pressure dalam membesarkan Qya. Semua anggota keluara baik suami, orangtua dan mertua  tipe yang santai dan ga rempong. Bisa ideal, bagus Alhamdulillah. Kalau engga, ya udah ga apa - apa.  Lama - lama vibe positif itu nular juga ke saya. Saya tidak mau mencap diri sebagai 'ibu yang gagal' gara - gara tidak bisa sesuai idealisme para pakar sedunia maya. 

Dan bagi para Ibu diluar sana yang sama - sama tidak bisa seideal mereka. Cheer up! A negative mind produces a negative life. Stay positive no matter what.  

Ingat, jangan lupa bahagia :)

1 komentar:

  1. Lucu bacanya Mbak, kepikiran, saya juga mungkin akan seperti itu, punya ekspektasi tinggi terhadap diri saya sendiri tapi ujung-ujungnya akhirnya saya menyerah sama keadaan (setelah berusaha tentunya).

    Kalian ibu yang hebat! ^^

    BalasHapus