Jumat, 20 Juni 2014

Tafakur Kehilangan



Kehilangan, tidak pernah menjadi hal yang mudah diterima. Jangankan kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup, ketika sesuatu yang kamu abaikan pergi akan tetap ada rasa kehilangan yang menyisakan bilur di salah satu sudut hati.

Kehilangan tidak pernah benar2 dipahami kecuali oleh orang yang mengalami. Sungguhpun setiap orang akan berkata "turut berdukacita sedalam- dalamnya" tapi rasa duka itu tidak pernah sama. Sekalipun setiap mulut berujar, “kamu pasti bisa kuat” namun belum tentu ia sendiri akan kuat bila ia yg merasakan kehilangan. Pahitnya kehilangan, hanya bisa dikecap oleh yang telah merasakan kehilangan juga.

Kehilangan, tidak pernah ada waktu yang tepat. Selalu ada rasa tidak siap, selama dan setua apapun dia berada disampinmu. Jangankan kehilangan yang terjadi dengan kecepatan cahaya, kepada dia yang telah menunjukkan tanda-tanda kepergian sejak lama pun, kamu akan selalu berharap bahwa ini bukanlah wakunya berpisah. At least not today..

Rasa tidak mudah, tidak dipahami dan tidak siap itu bergulir pada saya saat ini. Iya, kali ini memang giliran saya yang merasa kehilangan (lagi).

Ayah, malaikat penjaga tanpa sayap yang dikaruniakan allah pada saya, kembali pulang padaNya saat baru beberapa bulan saya lulus dari SMA.
A Dicky, cahaya dalam hidup saya, sang kakak sejati, superhero saya,  dijemput oleh malaikatNya pada satu minggu setelah saya wisuda.  Seolah – olah ayah mengestafetkan tongkat sebuah amanah pada a dicky, dan ketika amanah itu tuntas maka selesai pula waktu a dicky bersamaku.

I feel dying inside for weeks…I’m fine, I’m just too sad.  Tidak peduli dengan segala macam teori, terapi dan kata – kata mutiara yang biasanya saya berikan pada konseli. Saya memilih untuk larut dalam suasana duka. tidak ingin hal ini terjadi sekarang, titik.
.
.
.
Tapi, Thanks God akhirnya kesadaran itu muncul juga. Kesadaran untuk memilih hal yang lebih baik dari hari kemarin.

Saya bisa meratap pada Allah dan terus bertanya…
mengapa tuhan? Mengapa harus sekarang? mengapa harus saya? mengapa saat mereka belum saya bahagiakan?

Atau
Saya bisa berterimakasih pada Allah
Terimakasih ya Allah, saya telah diberi masa2 emas dalam hidup saya bersama mereka
Terimakasih ya Allah, untuk semua kenangan indah dan sungguh, mereka benar – benar hanya meninggalkan kenangan indah untuk saya. Tidak pernah ada pertengkaran, tidak ada airmata, tidak ada sekalipun saya merasa dikecewakan.
Terimakasih Tuhan, saya telah diberi kesanggupan dan kesempatan untuk memenuhi amanah dari mereka sebelum mereka kembali padaMU. Padahal mudah saja bagiMu untuk memanggil mereka pulang lebih cepat. Tentu itu akan menyebabkan rasa sesal yang lebih dalam lagi.
Terimakaish tuhan untuk segala hal yang luput saya syukuri

Saya bisa terpuruk dan merasa tidak berarti lagi mengejar mimpi.
Untuk apa berjuang setengah mati sendirian jika nanti saya tidak bisa melihat bahagia diwajah kalian?

Atau saya bisa menjadikan mimpi yg tertunda itu sebagai motivasi terbesar dalam kehidupan saya.
Karena meskipun ayah dan kakak tidak bisa mendengar dan melihat saya lagi, tapi Allah yang maha kuasa bisa mengabarkan pada mereka kelak bahwa saya bisa berhasil mewujudkan mimpi2 kita bersama.

Saya bisa saja terhanyut lama dengan menjalani hidup bagaikan zombie.
Atau saya bisa bangkit dan bahkan menjadi muslimah yang lebih baik dari sebelumnya. Kembali tersenyum dan menebar kehangatan di setiap hati yang saya jumpai. Sehingga setiap kebaikan saya lakukan bisa mengalirkan kebaikan pula bagi ayah dan kakak.

Saya bisa saja merasa orang yg malang yang ditinggalkan atau merasa bahwa saya teramat diberkahi dengan hadirnya para malaikat Allah di bumi.

Pada akhirnya saya menyadari bahwa saya tidak boleh menjadj orang yang egois. Hanya karena tidak ada lagi sosok ayah dan kakak yg selalu menjaga saya lalu saya merasa tidak adil, padahal mungkin inilah yang mereka inginkan.
Bagaimana mungkin saya marah karena keiginan saya tidak terlaksana sedangkan mereka atas izin allah merasa bahagia disana? menjadi orang terpilih yang cepat diangkat rasa sakitnya? menjadi orang langka yang dimudahkan pada nafas terakhirnya? menjadi orang yang dilidungi dari kematian yg tidak wajar? Mereka yang amat sangat beruntung karena didoakan oleh banyaknya orang yang mencintai mereka. Mereka berdua yang hingga saat ini masih sering disebut2 kebaikannya? Wahai diriku  bukankah harusnya engkau turut berbahagia atas kebahagiaan mereka? bilapun sedih dan khawatirnya harusnya kareana diriku sendirilah yang belum tentu akhir hidupku sebaik jalan cerita mereka.

Be miserable or motivate yourself, the choice is always yours….



1 komentar: