Selasa, 17 Juli 2012

Menulis itu Candu...




“permasalahan yang di hadapi di dunia akademisi sekarang adalah, baik dosen maupun mahasiswa sangat jarang menulis. Untuk itu saya sangat mengharapkan kalian untuk mulai membiasakan diri menulis. menulislah”

Kalimat tersebut meluncur dari salah satu dosen penguji ketika saya mengikuti ujian proposal beberapa hari lalu. Saya agak tertegun mendengar komentar penguji yang lebih mendekati curhat tersebut. Curhat dosen saya bisa jadi sangat beralasan. Di kampus saya yang notabenenya wadahnya para calon pendidik yang akan berdiaspora ke seluruh daerah di negeri ini, masih miskin untuk menghasilkan karya tulis khususnya karya tulis ilmiah. Jikapun seorang mahasiswa berhasil melahirkan sebuah karya tulis (baca : skripsi, thesis atau Disertasi) yang merupakan hasil keterpaksaan syarat lulus dan mendapat gelar, maka selanjutnya akan lemah di pengarsipan. Seolah karya tulis yang telah dibuat dengan tinta keringat dan airmata itu hanya seonggok dokumen yang akan ditengok apabila ada kebutuhan untuk mengutip ini itu.

Saya sendiri gemar menulis, namun dengan berbagai alasan, saya sangat jarang menulis. Jangankan sebuah karya ilmiah yang harus dipertanggungjawabkan metodelogi, urgensi, hipotesis dan blabla lainnya. Menulis to express di diary atau blogpun rasanya kerap kali mandeg, jemari kelu menerjemahkan apa yang hati maksud. Lalu hal tersebut saya ungkapkan pada dosen saya dan beliau menjawab sambil tersenyum “Mulailah menganggap menulis itu candu, seperti narkoba yang selalu menagih, seperti udara yang selalu dibutuhkan. menulislah kapanpun bisa, dimanapun, dalam perasaan apapun”.

Saya hanya tersenyum saat itu, bagaimanapun menulis bagi saya pribadi merupakan kegiatan langka meski tidak asing. saya hapal bagaimana puasnya ketika apa yang terdapat dalam pikiran dan hati dapat dapat tertuang dalam selembar kertas –atau selembar word- tapi tetap saja belum ada hal yang mampu membuat saya menulis secara konsisten atau setidaknya berusaha untuk konsisten. Sampai saya secara tak sengaja menemukan sebuah hadis yang membelai halus hati saya.

Tiga orang yang selalu mendapatkan pertolongan ALLAH tiada henti-hentinya adalah mujahid yang membela agama ALLAH, PENULIS yang mencerahkan, dan pemuda yang menyegerakan menikah untuk menjaga kehormatan diri.
(HR Ahmad)

Hmm Penulis..sebuah profesi yang selalu istimewa di mata saya. Menurut saya, seorang penulis itu keren. Ia mampu menyihir pembacanya dengan mantra berupa kalimat menyentuh yang disusun dari hati. Ia bisa memotivasi atau memprovokasi. Ia bisa membuat seulas senyum, atau butiran airmata bahkan dengan tanpa menyentuh fisik pembaca. Iya, penulis menyentuh dengan hati, dan sampai ke hati.

Ternyata kekerenan seorang penulis tidak hanya dimata manusia. Tapi juga pada sang pencipta manusia, Pencipta Segalanya. Bahkan bagi penulis yang mencerahkan, Allah menjanjikan pertolongan yang tiada henti – hentinya. Betapa beruntung orang – orang yang selalu mendapat pertolongan ALLAH…siapa yang tak ingin mendapat pertolongan ALLAH? Saya ingin, sangat ingin…lebih jauh saya ingin mendapat Cinta Allah. Pertanyaannya akankah ALLAH mencintai saya lewat tulisan – tulisan saya?

Lalu setelah blogflying saya menemukan kutipan “menulis untuk mencapai ridho ALLAH akan dapat mendekatkan diri kita kepada ALLAH sang pemilik segala galanya, dan insya ALLAH akan membuat ALLAH mencintai kita, tak ada cinta yang lebih indah dari cintanya ALLAH bukan? dan betapa penuh kasihnya ALLAH ketika satu tulisan kita mampu menolong seorang hamba, maka pertolongan ALLAH akan datang untuk kita”.

Untuk itu saya mulai menulis, meski hanya sebuah tulisan sederhana…ya sangat sederhana, yang mungkin jauh dari nilai estetika apalagi nilai jual. Meski pada suatu hari saya bermimpi untuk memiliki sebuah buku yang pada sampul bukunya tercetak nama saya sendiri. Biarlah saat ini saya belajar untuk menulis dulu. Belajar menerjemahkan apa yang jiwa saya katakan, belajar menelaah apa yang baik dan tak baik untuk di tulis (semua tulisan dipertanggungjawabkan, bukan?). Belajar menabung untuk bekal saya di akhirat nanti..ah rasanya saya butuh tutor untuk mengajari saya menulis

Secuplik kisah masih dari ujian proposal saya, dosen penguji berkata : “ayo cepat selesaikan model konselingnya, jika sudah jadi, nanti saya bukukan di Rumah Penulis (penerbitan milik beliau)”…sungguh komentar tersebut terasa seperti angin surga, untuk sejenak binar bintang pindah ke mata saya. Ah penulis…one of my big dreams..sampai kapanpun saya akan simpan mimpi saya tersebut disamping rembulan dan berjanji suatu saat nanti akan saya jemput dengan kereta kencana. Aamiin Allahumma Aamiin.

Semangat Dya…selesaikan tugas akhir dengan cara yang saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya!! SIAAP!!

3 komentar:

  1. great!! uda thesis ya..aku skripsi aja mandeg :( *ups..
    btw, menulis emang bentuk relaksasi yang entah mengapa kadang tidak gampang ya untuk ngerjainnya..
    padahal, cuma nulis doang :p

    BalasHapus
  2. subhanallah, kak. aku baru tahu ada hadis yang seperti itu, jadi makin semangat nih nulisnya :)

    banyak orang berpikir bahwa menulis itu ga keren dan cuma buang2 waktu. tapi menurut saya, menulis itu segalanya, menulis itu katarsis, menulis itu ... ibadah. insyaallah :)

    BalasHapus
  3. woOw....saya tertegun membaca pesan dalam tulisan ini,,,,saya juga ingin bisa menulis, mempunyai karya berupa buku adalah sebuah cita2 lama,,,tapi masih mau belajar banyak untuk bisa menterjemahkan kata2 hati kedalam tulisan :D

    BalasHapus